Lintasan Sejarah

TNI Angkatan Udara adalah bagian integral dari TNI, merupakan inti kekuatan matra dirgantara nasional dalam rangka menyelenggarakan pertahanan Nasional di udara. Peran ini mengharuskan TNI Angkatan Udara untuk dapat membentuk dan membina matra udara yang tangguh secara berkecepatan, daya capai, daya tembus, daya gempur dan kekenyalan. Dalam mewujudkan/mengoperasikan kekuatan yang sedemikian itu antara lain diperlukan kesiapan pesawat terbang dengan daya guna yang optimal setiap waktu. Dalam hal ini mutlak diperlukan kemampuan dukungan logistik yang tangguh, termasuk dukungan pemeliharaan baik di tingkat ringan, sedang maupun berat.

Koharmatau merupakan Komando Utama TNI Angkatan Udara yang bertugas pokok menyelenggarakan pemeliharaan pesawat terbang TNI Angkatan Udara. Salah unsur Koharmatau yang melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang bersayap tetap dan bersayap putar, pemeliharaan komponen, kalibrasi alat ukur presisi, pemeriksaan Non Destructive Inspection (NDI), dan produksi materiil adalah Depo Pemeliharaan 10. Dalam pelaksanaan tugas pokoknya Depohar 10 membawahi 6 Satuan Pemeliharaan (Sathar) yang meliputi Sathar 11, Sathar 12, Sathar 13, Sathar 14, Sathar 15 dan Sathar 16.

Disamping tugas pokok tersebut, Depohar 10 menyelenggarakan fungsi-fungsi kegiatan sebagai berikut:

 

a. Melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat angkut, latih dan helikopter tepat waktu.
b. Melaksanakan pemeliharaan komponen pesawat terbang dan kegiatan fabrikasi untuk mendukung kesiapan pesawat di lanud-lanud maupun pesawat dalam pemeliharaannya.
c. Menyelenggarakan bantuan pemeliharaan lapangan terhadap pesawat TNI Angkatan Udara untuk mendukung kesiapan operasi di Skadron-Skadron dalam jajaran Koopsau I, Koopsau II dan Kodikau.
d. Melaksanakan pemeliharaan tingkat ringan maupun sedang terhadap peralatan-peralatan dan fasilitas pemeliharaan sesuai fungsinya.
e. Melaksanakan kalibrasi terhadap peralatan standard untuk mendukung penyelenggaraan pemeliharaan pesawat terbang, yang terdapat di Satker-satker, Lanud-lanud dalam jajaran TNI Angkatan Udara.

 

Fasilitas dan sarana produksi/peralatan kerja meliputi bangunan, hanggar, bengkel dan gudang serta peralatan permesinan sebagian masih memakai peninggalan pemerintahan Hindia Belanda dan Jepang ditambah dengan peralatan baru beserta penambahan bangunan lainnya. Dengan sarana dan fasilitas yang ada sekarang Depohar 10 tidak pernah absen dalam operasi udara dalam rangka pertahanan keamanan maupun tugas-tugas di bidang sosial politik. Keberhasilan dalam pelaksanaan tugas ini adalah atas dasar keuletan dan sikap mental yang dimiliki oleh seluruh warga Depohar 10 dalam mengemban tugasnya.

 

Maksud dari penulisan sejarah ini adalah untuk memberikan gambaran tentang peranan Depohar 10 berikut pertumbuhan dan perkembangannya untuk diketahui oleh seluruh anggota terutama generasi muda yang kelak sebagai pelaku peningkatan kemampuan untuk dijadikan titik tolak mempersiapkan diri menerima tugas yang dibebankan oleh TNI Angkatan Udara khususnya dan TNI pada umumnya.

Sejarah ini disusun berdasarkan periode waktu, dimana setiap periode merupakan periode yang mencerminkan penggantian nama kesatuan dan kegiatan-kegiatan yang menonjol. Selain itu untuk mengenal arti peninggalan benda sejarah yang sampai saat ini masih digunakan untuk kegiatan pemeliharaan pesawat terbang akan diuraikan sekilas periode waktu sebelum kesatuan ini diserahkan kepada AURIS, yaitu periode waktu ketika perjuangan fisik.

 

Periode Tahun 1926-1942 (“LUCHTVAART AFDELING”)

Kesatuan didirikan oleh pemerintah penjajahan Hindia Belanda, kira-kira pada tahun 1926-1927 jadi sebelum perang dunia ke-II, tugas pokok dari kesatuan ini adalah melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang dari angkatan perang pemerintahan Hindia Belanda. Adapun pesawat terbang tersebut, adalah tipe “Gleen L. Martin”, “Bewster Buffalo” dan “Lockheed Loader Star”. Kesatuan ini diberi nama “Luchtvaart Afdeling” dan disingkat dengan “LA”.

 

Periode Tahun 1942-1945
(“YOSIDA BUTAI”)

Setelah pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, maka kesatuan ini digunakan untuk melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang, beserta overhaul komponen milik angkatan perang kerajaan Jepang. Kesatuan ini diberi nama “Yosida Butai”. Adapun pesawat terbang yang dipelihara pada waktu itu adalah tipe “Bomber Nakayama”, “Mitzubisi”, “Niskoren”, “Guntai”, “Hayakusa” dan “Cukiyu”. Kesatuan ini hanya melayani pesawat-pesawat terbang yang beroperasi di front barat, yaitu Birma, Singapura, Cina Selatan, dan sekitarnya.

 

Periode Tahun 1945-1949
(“EERST VLIEGTUIG REPARATIE BASIS”)

Pada waktu perjuangan fisik kesatuan ini dikuasai oleh tentara pendukung sekutu khususnya tentara Belanda. Oleh Belanda kesatuan ini dinamakan “Eerst Vliegtuig Reparatie Basis” yang disingkat IEVRB. Kesatuan ini melaksanakan perawatan tingkat berat pesawat terbang tipe: B-25 “Mitchell”, P-51 “Mustang”, A-169 “Harvard”, L-4J “Piper Cup”, C-47 “Dacota” dan Auster. Tenaga-tenaga mekanik dari "IEVRB" sebagian besar adalah anggota “ML”. Anggota “Yosida Butai” hampir semuanya keluar kota Bandung untuk ikut bergerilya dengan kesatuan lain. Beberapa tenaga ahli/intel melaksanakan tugasnya memperbaiki pesawat-pesawat terbang peninggalan tentara Jepang yang belum dikuasai oleh pihak Belanda seperti pangkalan udara Cibauereum Tasikmalaya, Maguwo Yogyakarta dan Maospati Madiun. Pesawat terbang yang berhasil diterbangkan dengan fasilitas dan peralatan yang sangat terbatas antara lain tipe: “Nishikoren, Hayabusha, serta Cureng” yang pernah digunakan menyerang kedudukan tentara Belanda di Ambarawa dan Salatiga serta Guntai yang dipakai untuk membom tentara Belanda di Semarang.

 

Periode tahun 1949-1957
(ASISTEN I DIREKTUR PERAWATAN TEKNIK I)

Setelah Belanda menyerah ke kedaulatan RI pada tanggal 27 Desember 1949, maka kesatuan ini diserahkan kepada AURIS dari ML, dengan tugas pokok melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang/komponen milik AURIS. Sesuai dengan keputusan Menpangan Nomor 96/50/Pen/53 tanggal 31 Desember 1953 dan terhitung pada tanggal 1 Januari 1950, dinamakan Asisten I Direktur Perawatan Teknik I, sebagai pejabat Komandan ditunjuk Letnan Udara I Nurtanio Pringgo Adi Suryo beliau menjabat sampai dengan pangkat Mayor Udara dan          diganti pada tanggal 1 Juni 1957 oleh Kapten Udara A. Patah yang menjabat sampai dengan 1 April 1958, Mayor Udara Nurtanio setelah tidak aktif di kesatuan ini mendirikan “Depot Pembantuan Penelitian dan Pengembangan” yang pada tahun 1960 dengan keputusan menpangau Nomor 480 Depot ini diresmikan menjadi lembaga yang diberi nama “Lembaga Persiapan Industri Penerbangan” dan disingkat menjadi “LAPIP”. Pangkat terakhir beliau adalah Laksamana Muda Anumerta. Gugur pada bulan Maret 1966 bersama-sama Komodor Anumerta Supadio pada waktu bertugas melaksanakan pengujian terbang/tes Flight pesawat terbang bukan produksi LAPIP.

Personel dari Asisten I Direktur Perawatan Teknik I, sebagian besar adalah bekas anggota Yosida Butai yang kembali dari daerah gerilya, lulusan sekolah teknik udara Maospati Madiun dan sebagian lagi bekas anggota ML/Belanda.

 

Periode tahun 1957-1962
("DEPOT PERAWATAN TEKNIK UDARA I")

Berdasarkan surat keputusan menpangau nomor 73 tahun 1957 terhitung mulai tanggal 1 April 1957, kesatuan ini diganti nama menjadi “Depot Perawatan Teknik Udara I”. Dan memiliki tugas memelihara:

a. Pesawat Pembom tipe B-25 Michel dan B-26 Invander.
b. Pesawat baru taktis tipe P-51 Mustang.
c. Pesawat angkut tipe C-47 Dakota.
d. Pesawat SAR/Intai tipe PBY-5A, UF-1 Albatros, Helicopter dan Otter.

Penggantian pimpinan pada periode ini Kapten Udara A. Patah diganti oleh Kapten Udara Ir. Suratman Darma Prawira. Kemudian pada tanggal 1 April 1958 Kapten Udara Ir Suratman Darma Prawira, diganti oleh Mayor Udara GF Mambo.

 

Periode tahun 1962–1965
(“DEPOT TEKNIK 001”)

Pada tanggal 17 Juli 1962 Depot Perawatan Teknik Udara I diganti dengan nama “Depot Teknik 001”, sesuai dengan surat keputusan menpangau nomor 131 tahun 1962. Dalam periode ini terjadi penggantian pimpinan yaitu Mayor Udara GF Mambo diganti oleh Mayor Udara Sumartoyo.

 

Periode tahun 1965–1966
(“DEPOT TEKNIK 011”)

Berdasarkan surat keputusan menpangau nomor 17 tahun 1965 Depot Teknik 001 menjadi Depot Teknik 011. Pengganti pimpinan dalam periode ini adalah Mayor Udara Sumartoyo diganti oleh Mayor Udara Ir. Sukendro Wardoyo pada tanggal 1 April 1965.

 

Periode tahun 1966–1970
(“WING LOGISTIK 010”)

Pada tanggal 2 Mei 1966 dengan berdasarkan kepada keputusan menpangau nomor 45 tahun 1966, depo teknik 011 diganti namanya menjadi “Wing Logistik 010”, perubahan nama ini diikuti juga dengan perubahan struktur organisasinya, baik esselon staff maupun pelaksana. Esselon staff organisasi Wing Logistik 010 adalah:

 

a. Skadron Teknik 011 merupakan pelaksana kegiatan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang.
b. Skadron Teknik 012 pelaksana kegiatan untuk mendukung pemeliharaan pesawat terbang di Skadron Teknik 011 dan pemeliharaan komponen di Skadron Teknik 012
c. Skadron Teknik 013 merupakan pelaksana kegiatan pemeliharaan komponen pesawat terbang.
d. Skadron Materiil 014 sebelumnya merupakan kesatuan berdiri sendiri dengan nama Depo Materiil 061, merupakan pelaksana kegiatan penerimaan, penyimpanan, pengeluaran materiil pesawat terbang.
e. Gudang pemeliharaan pusat merupakan pelaksana pergudangan materiil pesawat terbang untuk mendukung pemeliharaan di skatek-skatek lingkungan Wing Logistik 010.

Penggantian pimpinan dalam periode ini adalah Mayor Udara Ir. Sukendro Wardoyo diganti oleh Mayor Udara Djukhadi A. pada awal tahun 1968.

 

Periode Tahun 1970–1978
(“DEPOT LOGISTIK 010”)

Pada tanggal 1 Juli 1970 sesuai dengan surat keputusan menpangau nomor 57 tahun 1970 “Wing Logistik 010”, namanya diganti menjadi “Depot Logistik 010”. Dengan adanya perubahan ini, struktur organisasi juga mengalami perubahan, baik ditingkat markas maupun kesatuan pelaksananya. Pada periode ini peningkatan kemampuan Depot Logistik 010 adalah:

 

a. Pada tahun 1972 kesatuan pemeliharaan 15, memiliki kemampuan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang C-130 Hercules.
b. Pada tahun 1976 kesatuan pemeliharaan 16 memiliki kemampuan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang Helicopter jenis S-58T Twin Pack yang kemudian berkembang sehingga mampu memelihara pesawat jenis puma SA 330, Huges dan Solloy.

Struktur organisasi Depot Logistik 010 secara garis besar adalah sebagai berikut :

 

A. Eselon Staff :

  1. Staff Operasi diganti menjadi Dinas Pemeliharaan.
  2. Staff Pembinaan diganti menjadi Dinas Pembinaan.
  3. Inspeksi dari staff khusus ditingkat menjadi Dinas Inspeksi.
  4. Seksi materiil disingkat menjadi Dinas Pembekalan.
  5. Staff khusus disederhanakan menjadi sekretariat umum dan detasemen markas.

 

B. Eselon Pelaksana :

  1. Skadron Teknik diganti menjadi kesatuan pemeliharaan tingkat Sathar.
  2. Skadron Materiil diganti menjadi Kesatuan Pembekalan disingkat Satkal.
  3. Gudang RPC ditingkatkan menjadi Seksi pusat proses perbaikan pesawat terbang, disingkat P3KP.
  4. Pemeriksaan bahan dan kalibrasi ditingkatkan menjadi seksi inspeksi materiil disingkat Siinsmat.

Penggantian pimpinan dalam periode ini adalah Letkol TPT Djukadhi A. Rukmana diganti oleh Kolonel TPT Subagyo. Pada tahun 1977 Kolonel TPT Subagyo diganti oleh Kolonel TPT Sutijptadi.

 

Periode Tahun 1978–1985
(“WING MATERIIL 10”)

Dengan keputusan Kasau nomor Kep/19/V/1978 terhitung mulai 23 Mei 1978 “Depot Logistik 010”, diganti nama menjadi “Wing Materiil 10”. Peningkatan kemampuan pada periode ini adalah Bengkel Propeller, Instrumen dan Hydraulic dapat melaksanakan overhaul komponen propeller, instrument dan hydraulic berbagai tipe pesawat terbang. Struktur organisasi sedikit mengalami perubahan yaitu:

 

a. Staff khusus ditambah urusan pengadaan disingkat URADA dan pemegang Kas disingkat Pekas.
b. Kesatuan pemeliharaan diganti namanya menjadi Skadron Teknik disingkat Skatek.
c. Kesatuan pembekalan diganti namanya menjadi Skadron Materiil disingkat Skamat.
d. Staff Skadron Teknik ditambah urusan materiil disingkat Urmat.

Penggantian pimpinan dalam periode ini adalah Kolonel TPT Sutijptadi diganti oleh Letkol PTP Soemarno pada tahun 1979. Selanjutnya Kolonel TPT Soemarno diganti oleh Kolonel I. M Sugeng pada tanggal 25 Mei 1984.

 

Tugas pokok dan fungsi Wing Materiil 10 adalah menyelenggarakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang dan Overhaul komponen-komponennya, baik yang bersayap tetap (fixed wing) maupun bersayap putar (rotary wing) guna mendukung operasi udara TNI Angkatan Udara, sedangkan fungsinya adalah sebagai berikut:

 

a. Melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang bersayap tetap dan putar.
b. Modifikasi dan perbaikan tingkat pesawat terbang.
c. “Major Overhaul” dan “Repair” komponen pesawat terbang.
d. Memberikan bantuan tenaga spesialis/teknis untuk pemeliharaan pesawat terbang di luar Wing Materiil 10.
e. Kalibrasi alat-alat ukur presisi yang digunakan di lingkungan TNI AU dan pemeriksaan spare part dengan sistem NDI.
f. Menerima, menyimpan dan menyalurkan materiil pesawat terbang untuk menunjang kegiatan pemeliharaan pesawat terbang.

 

Periode Tahun 1985–1998

(“DEPO PEMELIHARAAN PESAWAT TERBANG 10”)**

Berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor: Skep/01/III/1985 terhitung tanggal 11 Maret 1985 “Wing Materiil 10” menjadi “Depo Pemeliharaan Pesawat Terbang 10” disingkat “Depopesbang 10”. Struktur organisasi mengalami perubahan diantaranya:

a. Komandan Skadron Teknik diganti menjadi Kepala Bengkel Pemeliharaan disingkat Kabenghar.
b. Komandan Detasemen Markas diganti menjadi Kepala Tata Usaha dan Urusan Dalam disingkat Kataud.
c. Gudang pemeliharaan pusat SITE 4 GPP 14 menjadi Titik Bekal disingkat TB berdasarkan Skep Dankoharmatau Nomor: Skep/11/VIII/1986 tanggal 6 Agustus 1986, sedangkan GPP1 dibawah pembekalan Materiil Pusat.
d. Pusat Proses Perbaikan Komponen Pesawat Terbang (P3KP) menjadi Pusat Proses Perbaikan (P-3).
e. Dinas Inspeksi menjadi Pengendalian Kualitas (Dalkual).
f. Dinas Pembekalan (Diskal) ditiadakan dan dibentuk menjadi Seksi Administrasi Materiil (Siminmat).
g. Bengkel Transmisi Benghar 13 dipindahkan ke Benghar 16.
h. Bengkel Radio dari Bengkel 13 diserahkan ke Bengkel 11.

Kegiatan pemeliharaan pesawat terbang tetap melanjutkan tugas pokok dan fungsi yang lama. Dengan adanya perubahan GPP 14 menjadi GPP I dibawah naungan Bekmatpus, maka tugas menerima dan menyimpan materiil pesawat terbang tidak lagi dibawah Depopesbang 10.

 

Penggantian pimpinan dalam periode ini adalah:

  • Kolonel TPT I.M. Sugeng diganti oleh Letkol Tek Achmadi pada tanggal 28 Agustus 1986, berdasarkan Skep Kasau Nomor: Skep/32-PKS/VIII/1986 tanggal 12 Agustus 1986.
  • Pada tahun 1989 berdasarkan Skep Kasau Nomor: Skep/09-PKS/III/1989 Kolonel Tek Achmadi diganti oleh Letkol Tek J. Kartif Hartoyo.
  • Tahun 1991 terjadi penggantian pimpinan berdasarkan Skep Kasau Nomor: Skep/20-PKS/IX/1991 Letkol Tek J. Kartif Hartoyo diganti oleh Letkol Tek M. Kuswardhono.
  • Selanjutnya berdasarkan surat Dankoharmatau Nomor: B/271-07/05/I/Dan tanggal 24 Juli 1992, terdapat penyempurnaan struktur organisasi Depopesbang 10 antara lain TB menjadi TB Depo 10/GPD dengan dibantu TB Benghar-benghar.
  • Tahun 1994 Kolonel Tek M. Kuswardhono diganti oleh Kolonel Tek Suharsono.
  • Tahun 1996 Kolonel Suharsono diganti oleh Letkol Sudjarwo, SE.SIP.

 

Periode Tahun 1998–Sekarang

(“DEPO PEMELIHARAAN 10”)

Berdasarkan surat keputusan Kasau Nomor: Kep/4/II/1998 tanggal 3 Februari 1998 tentang pokok-pokok organisasi dan prosedur kotama fungsional TNI Angkatan Udara dan menyangkut perubahan nama “Depo Pemeliharaan Pesawat Terbang 10” menjadi “Depo Pemeliharaan 10” dan disingkat “Depohar 10”.

 

Struktur organisasi mengalami sedikit perubahan diantaranya:

a. Kepala Bengkel Pemeliharaan diganti menjadi Komandan Satuan Pemeliharaan disingkat Dansathar.
b. Kepala Pengendalian Kualitas disingkat Kadis Dalkual.
c. Seksi Diklat dihilangkan dan digabung ke Binpersman, kemudian Binpersman diganti menjadi Seksi Binpers disingkat Sibinpers membawahi Subsi Minpers dan Subsi Diklat.

 

Penggantian pimpinan Komandan Depo Pemeliharaan 10 dari masa ke masa:

  • Kolonel Tek Sudjarwo, SE.SIP — periode 1996–1999
  • Letkol Tek Bob S. Trisno — periode 2000
  • Kolonel Tek Ferdinan — periode 2000–2002
  • Kolonel Tek Mulyono — periode 2002–2003
  • Kolonel Tek Karibiyama — periode 2003–2005
  • Kolonel Tek Suharto — periode 2005–2008
  • Kolonel Tek Taufiq S. A. — periode 2008–2011
  • Kolonel Tek I. Triandono P. — periode 2011–2014
  • Kolonel Tek Asmawie Prawiro — periode 2014–2015
  • Kolonel Tek Bambang Triono — periode 2015–2016
  • Kolonel Tek I. N. Sudarsana — periode 2016–2017
  • Kolonel Tek Asfan Jauhari — periode 2017–2018
  • Kolonel Tek Moch. Iskak Sugandi — periode 2018–2020
  • Kolonel Tek Wawan Tedy E. — periode 2020–2021
  • Kolonel Tek Hery Hermawan — periode 2021–2023
  • Kolonel Tek Imam Prayogo, S.T., M.M. — periode 2023
  • Kolonel Tek Ruhimat, S.T., MM. – sekarang